0
20 Okt




“Ingatlah kematian. Demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.(Rasulullah SAW)”

Kita tahu bahwa kematian itu pasti akan menjemput kita dan akan datang setiap saat. Sayangnya, banyak orang yang lupa, sehingga menganggap dirinya akan hidup selamanya padahal hidup di dunia ini hanya sekedar mampir. Dari hari ke hari, hitungan umur kita memang bertambah. Tapi sebetulnya jatah hidup kita didunia ini semakin berkurang. kita hanya punya sisa umur. Mudah-mudahan dengan Zikrul maut (mengingat mati ), kita bisa menyikapi detik demi detik dari sisa umur kita dengan benar, yaitu mengisinya dengan aktivitas ibadah dan perbuatan utama yang didasari niat yang benar. Zikrul maut adalah salah satu upaya untuk menghidupkan hati kita. Dengan kata lain, orang-orang yang sangat jarang ingat mati berpeluang mengeras hatinya karena akrab dengan kemaksiatan. Sayang, kita terkadang “alergi “ dengan yang namanya kematian, mengapa? Karena kita terlalu senang dengan dunia ini. Padahal dunia ini tidak seberapa, kita hanya mampir dan mau tidak mau kita pasti mati. Apa bedanya hati yang hidup dengan hati yang mati? Ibarat seekor ikan, ikan yang hidup, tubuhnya tidak akan terasa asin walaupun dia berenang dan menelan air laut atau bahkan di lumuri air garam. Lain halnya dengan ikan yang mati, jika tubuhnya dilumuri garam, maka akan terasa asin walaupun telah keluar dari dalam air laut. Sama halnya dengan orang hatinya hidup, walaupun kemaksiatan terjadi disekelilingnya bahkan dengan gencar menggoda dirinya, dia tidak akan larut dalam kemaksiatan itu karena hatinya hidup. tapi kalau hatinya mati, sedikit saja godaan, dia mudah terkontaminasi oleh godaan tersebut.

Pernah mendengar tentang kisah para mujahidin Afganistan atau mujahidin Chechnya? Mereka sama sekali tidak gentar walaupun peluru berseliweran dekat tubuh mereka bagaikan nyamuk di malam hari. mengapa ketakutan tidak ada dalam diri mereka? karena mereka yakin, bahwa setiap peluru itu ada alamatnya. Segagah apapun orangnya, pasti dia akan mati. seorang jenderal besar, seorang konglomerat, seorang dokter, bahkan seorang tukang gali kubur pun pada saatnya nanti akan mendapat giliran mengisi kuburan yang biasanya dia gali.

Kematian saudara atau teman kita seringkali tidak membuat hati kita tergugah, mengapa? padahal rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa orang yang paling cerdas itu bukanlah orang yang encer otaknya, punya gelar, dan banyak ilmunya. orang yang cerdas itu adalah orang yang paling banyak ingat mati dan paling mempersiapkan diri untuk mati. Oleh karena itu dia akan selalu meluruskan niatnya dalam setiap ikhtiarnya sehingga kapanpun allah memanggilnya,dia akan selalu siap Luruskan niat kita dalam setiap langkah kaki kita. Kemanapun kita melangkah, pastikan niat kita benar. Niat kita pergi ke kantor harus benar “ Ya Allah, andaikata hari ini adalah hari kepulangan saya, maka jadikanlah semua aktivitas saya kebaikan.” Banyak jalan menuju maut. Kita tidak perlu takut dan was-was menjalani hidup ini. Tapi kita harus tetap berhati-hati dan selalu waspada.Jika saat kita belum tiba ,kecelakaan sedahsyat apapun tidak akan mematikan kita. Pergi perang tidak menyebabkan umur kita pendek. Kita akan mendatangi tempat kematian kita.Maka jangan risau tentang kematian, tapi risaulah jika kita tidak memiliki cukup bekal untuk menghadapi kematian. Lakukanlah aktivitas seperti biasanya. Setiap kita melakukan sesuatu, awalilah dengan basmalah. Sebelum kita tidur, biasakanlah untuk berwudhu layaknya wudhu untuk shalat, karena tidak ada jaminan besok pagi kita bisa bangun, bisa jadi di sela-sela tidur malaikat maut mencabut nyawa kita. Oleh karena itu , dari pada kita inget hutang , kesusahan , musuh, someone, dan lain sebagainya, lebih baik kita ingat kepada Allah SWT. dengan memperbanyak dzikir mudah-mudahan kita mendapat khusnul khatimah.

Kombinasi Amal Dunia dan Akhirat

Rasulullah yang mulia sudah mengatur tentang amal yang harus kerjakan di dunia ini sebagai bekal untuk akhirat nanti, “Beramalah di dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan berdoalah untuk akhirat seakan-akan kamu akan mati besok “. Jadi, itulah kombinasi yang sempurna. Kita terus kerja keras cari dunia, supaya punya banyak bekal untuk pulang. Makin banyak rumah kita dipakai orang yatim, dipakai oleh orang jompo yang tidak punya sanak saudara, dipakai untuk menampung orang-orang tunawisma, diwakafkan, dan digunakan untuk sarana ibadah di dunia ini, maka Insya Allah diakhirat nanti kita dapat menikmati buah dari amalan kita di dunia. Dunia adalah sarana bagi kita untuk mencapai kemuliaan diakhirat nanti. Carilah dunia sebanyak-banyaknya untuk kita jadikan bekal akhirat. Jika kita menggunakan dunia ini untuk berhura-hura, maka diakhirat nanti kita tidak akan menikmati lezatnya karunia Allah.

Menyikapi Rasa Takut Akan Mati

Jika kita mempunyai rasa cinta kepada Allah, maka kematian itu akan sangat dirindukan .Para mujahidin merasa iri melihat teman-temannya telah wafat mendahului mereka. Jika ada rasa takut dalam diri kita terhadap kematian, mungkin saja itu merupakan dosa. Saat kita mengingat makin banyak dosa yang kita lakukan maka kita merasa makin tidak siap menghadapi kematian, akhirnya kita takut jika kematian menjemput kita. Kita tidak siap menghadapi kematian karena kita merasa bekal kebaikan kita belum cukup. Faktor penyebab ketakutan kita yang paling mungkin adalah karena kita belum mengenal indahnya perjumpaan dengan Allah kelak. Makin mantap ma’rifat kita tentang Allah, maka kerinduan kita semakin tinggi untuk bisa berjumpa dengan-Nya. Maka berjuanglah dengan optimis,bahwa suatu hari kelak, kita di pertemukan bidadari yang Allah siapkan untuk orang-orang yang mempunyai bekal kebaikan di dunia.

Persiapan Menuju Kematian

Hidup kita harus barokah. Kapan saja Allah mencabut nyawa kita, maka itu bukanlah masalah. Marilah kita mencoba mempersiapkan kain kafan untuk kita sendiri. Atau cobalah untuk menghiasi rumah kita dengan sesuatu atau hal yang dapat mengingatkan kita akan kematian. Makin sering mengingat mati, maka kita akan semakin merasa bahwa dunia ini bukan segala-galanya .Kita harus tetap kerja keras di dunia ini untuk bekal pulang. Tidak perlu kita merasa takut berpisah dengan dunia ini karena kematian itu hanyalah perpisahan sementara.

Sungguh tidak lucu dan menyebalkan bila kita menitipkan motor kepada seseorang, lalu orang ini begitu senang memamerkan seolah-olah barang itu miliknya. Terlebih ketika kita akan mengambilnya, dia berusaha menahan dengan segala cara seakan tidak boleh diambil kembali. Bahkan ketika sudah berhasil kita bawa pulang,dia tampak uring-uringan, dongkol dan merana,padahal sama sekali bukan miliknya. Sungguh! tidak lucu sama sekali. Nah, orang yang belum memiliki keyakinan bahwa segalanya hanyalah titipan allah akan serba ketakutan. Kalau belum ada takut tidak kebagian, kalau sudah ada takut kehilangan. Persis seperti orang yang bersandar ke sebuah kursi, tentu saja ia sangat takut jika kursi itu di geser karena ia akan jatuh terpelanting. Berbeda halnya dengan orang yang berdiri tegak dan mantap, justru kursi yang bersandar pada dirinya. Sehingga dia tidak pernah takut kehilangan apapun. Begitulah orang yang hanya bersandar kepada Allah dan tak bersandar kepada dunia ini, dia tidak takut kehilangan apapun selain kehilangan ridho Allah. Baginya dunia ini terserah pemiliknya, mau diberi, ditahan, ataupun diambil. Karena dia yakin bahwa sang pemilik sudah punya perencanaan dan perhitungan yang maha cermat, yang tak akan salah dan meleset sedikitpun. Yang penting baginya bagaimana menyikapi ada dan tiada sambil tetap dalam ridho Allah. Segalanya pasti ada ajalnya. Hanya Allah semata yang kekal. ban pasti meletus, piring dan gelas akan pecah, lampu akan mati, kompor akan rusak. Ya…segalanya merupakan bagian dari perputaran “ladang rezeki” dan “ladang Amal” dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang mengerti hikmah dibalik semua kejadian. Tiada kesedihan dan kedukaan akibat tiada, ataupun kesombongan dengan ada, semuanya dikemas menjadi ladang ibadah Taqarrub kepada Allah semata. Wallahua’lam.

Doa Mohon Khusnul Khatimah

“Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma liqaa’ika”

Artinya : Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya dan sebaik-baiknya hariku adalah pada saat aku menemui Mu ( di sebutkan oleh An-Nawawi )



Dikirim pada 20 Oktober 2011 di Pelangi
Profile

Seorang muslimah yang sedang bermujahadah untuk memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. More About me

Page
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 225.058 kali


connect with ABATASA