0



“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan "ah", dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).
“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” itulah peribahasa yang cukup popular, kasih ibu di ibaratkan jalan yang panjang tanpa ujung, memang ibu mengasihi kita tanpa kenal lelah dan waktu, hanya sayang sekali, kebanyakan anak mengasihi ibunya sebatas penggalan saja. Pernahkan kita memperhatikan seorang ibu yang sedang hamil? coba tanya bagaimana rasanya. Pasti berat dan sakit. Dulu kita ada dalam perut ibu, tiap hari berat badan kita semakin bertambah. Tapi ibu tetap saja sabar. Sambil menggendong kita yang masih ada di dalam perut , ia tetap saja bekerja menyapu, mengepel, mencuci pakaian, masak dan sebagainya. Ibu kita menggendong sambil duduk, berdiri rukuk dan sujud, berbaring, terlentang, malah bepergian kemanapun kita tetap saja di gendongnya. Apa tidak besar jasa ibu kita? Bayangkan apa ibu yang sedang hamil 7-9 bulan dapat tidur enak?
Kemudian kita lahir, bagaimana rasanya seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya? Ibu berteriak-teriak kesakitan, malah ada juga ibu yang meninggal ketika melahirkan anaknya. Sungguh indah wasiat yang rasulullah sampaikan kepada Fatimah Az-zahra yang merupakan mutiara termahal nilainya
“ Wahai Fatimah! Di saat seorang wanita Mengandung, maka malaikat memohon ampunan baginya. dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia di lahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umroh. Dan seribu malaikat memohon ampunan baginya hingga hari kiamat.”
Begitu lahir, ibu masih belum bisa jalan, ia masih kesakitan tapi kita tetap ada dalam pelukan ibu. Ibu tidak tega menyaksikan kita berteriak- teriak menangis. Lalu ibu mendekap kita dan memberi kita ASI. kita pun terdiam menikmati dekapan ibu dan ASI ibu kita. Berapa kali kita menangis minta ASI? Berapa ratus hari ibu menyusui kita? Tidak pernah bisa di hitung, tapi ibu siap setiap saat mendekap dan memberi ASI pada kita. Kita (maaf) pipis di sembarang tempat tapi ibu tetap saja bersabar mengganti popok dan selimut, kita pun di mandikan dengan penuh hati-hati, di hangati dengan minyak telon, dan di taburi bedak. Dalam kondisi yang semakin lelah ibu tetap saja senang dan bahagia kita di timang-timang dan diciuminya.
Bertambah besar secara berangsur kita di suapi mulai dari bubur yang paling encer hingga nasi tim, sambil tetap memberi ASI. Bertambah besar, kita pun semakin nakal, membuat ruwet ibu dan ayah.Apa orang tua kita melemparkan atau membuang kita? tentu tidak, walau nakal, tetap saja kita di pangku-pangkunya dan di peluknya.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu". (HR Muslim)
Dari isi Hadist terlihat betapa Allah melalui Rasulullah menilai besarnya pengorbanan orang tua kita terutama Ibu. Apa yang sudah ibu berikan kepada anaknya tidak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia ini. Ya begitulah orang tua kita, “Cinta orang tua pada kita adalah hutang yang tidak pernah mereka tagih, tapi juga tidak pernah bisa kita lunasi “
Orang tua adalah mata rantai terpenting dari seluruh perjalanan hidup kita. Dari ayah dan ibu lah segala cerita tentang kita bermula. Tapi tidak selalu kesana pula sejarah bakti kita bermuara. Seperti sudah takdirnya, orang tua lelah membesarkan anak-anak hanya untuk di tinggalkan di hari tuanya, mereka mengantarkan anak-anak untuk mengenali dunia ramai, untuk kemudian berbalas sepi di usia senja. Kecuali orang tua yang masih bisa tinggal bersama anak-anaknya hingga akhir hayatnya. Tapi faktanya, tidak semua orang bernasib baik seperti itu. Maka cinta orang tua pada anak tidak akan pernah bisa di tebus dengan cinta anak kepada orang tua. Seberapapun.
Entahlah, seberapa sering kita teringat orang tua kita. Lebih lagi bila pertanyaannya kita ganti, seberapa sering kita mengingat orang tua. Teringat dan mengingat tidaklah sama. “Teringat” terjadi lebih karena faktor eksternal. Mungkin kita melihat orang tua berjalan terhunyung, lalu kita teringat orang tua. Mungkin kita berjumpa dengan sesosok orang sepuh, lalu kita teringat orang tua kita. Mungkin kita melihat gambar, menyaksikan peristiwa, mampir disebuah rumah, lalu teringat orang tua. Selalu ada faktor luar yang menjadi pemicu untuk teringat.
Berbeda dengan “Mengingat”. “Mengingat” adalah sebuah kesengajaan sejak mula-mula. “Mengingat” di lakukan sebagai sebuah tanggung jawab tiada henti untuk terus berbakti kepada kedua orang tua. Seringkali kita tak begitu menghargai sesuatu, kecuali setelah sesuatu itu tiada lagi. Begitupun cara kita menghargai orang tua, seringkali banyak diantara kita yang merasakan betapa mahal keberadaan orang tua, justru setelah mereka tiada.
Hari ini, berhentilah sejenak. Mari merenung. Mengingatlah dan jangan sekedar teringat. Berapa banyak kebaikan yang telah kita nikmati dari orang tua kita, lalu berapa banyak kebaikan yang telah kita berikan untuk mereka. Bahkan dalam urusan mengambil manfaat dari doa-doa, kita para anak-anak selalu menikmati doa-doa orang tua kita, biasanya demi kebahagiaan hidup kita di dunia. Orang tua ingin melihat anak-anaknya tumbuh bahagia, berkembang dan bertambah dewasa di jalan kebahagiaan. Apa yang dalam bahasa Alquran di sebut dengan anak-anak yang bisa menjadi Qurrata’ayun. Sedang bagi orang tua kita, puncak manfaat yang ia rasakan dari dari doa anak-anaknya, justru ketika mereka sudah tiada. Itulah yang di jelaskan oleh Rasulullah, bila bahwa anak manusia mati, putuslah semua amalannya, kecuali tiga hal. Salah satunya adalah doa anak-anaknya yang shaleh. Boleh dikata kita menikmati kehidupan dunia ini dengan doa-doa orang tua. Sementara orang tua kita justru sangat mengharapkan doa-doa kita setelah ia tidak bisa menikmati apa-apa dari kehidupan dunia.
Hari ini sejenak bertanyalah mengingatlah dan jangan sekedar teringat Bagaimana kabar ibu kita hari ini? Bagaimana kabar ayah kita hari ini? Diantara kita mungkin ada yang masih bergenap orang tua. Mungkin ada yang salah satunya sudah tiada. Atau yang kedua-duanya sudah pergi mendahului kita. Kita hanya harus memastikan, seberapa tulus dan sungguh-sungguh kita mencintai dan membahagiakan mereka. Hidup memang bergerak maju kearah tantangan baru. zaman baru dan tuntutan yang baru. Tapi seharusnya selalu ada cara untuk mencintai orang tua, meski dengan sangat bersahaja.
Orang tua, terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang hidup kita. Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri. Kalau kita menghormati semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua kita. Begitu juga bila kita memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka berarti kita memaki orang tua kita sendiri. Memuliakan orang tua kita bukan dengan memberinya harta yang berlimpah. Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah membuat orang tua kita damai dan senang. Harta tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan akhlak yang baik.
Kita sebagai anak harus memohon, berjuang sekuatnya kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan lapang dada. Jangan pernah berfikir bahwa berbakti pada orang tua adalah soal balas budi. Karena itu tak akan pernah bisa kita penuhi.
Kepada semua ibu, Selamat Hari Ibu, Semoga Allah membalas semua Pengorbananmu dengan SyurgaNya.. Amin

Dikirim pada 22 Desember 2011 di Pelangi
20 Okt



“Ingatlah kematian. Demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.(Rasulullah SAW)”
Kita tahu bahwa kematian itu pasti akan menjemput kita dan akan datang setiap saat. Sayangnya, banyak orang yang lupa, sehingga menganggap dirinya akan hidup selamanya padahal hidup di dunia ini hanya sekedar mampir. Dari hari ke hari, hitungan umur kita memang bertambah. Tapi sebetulnya jatah hidup kita didunia ini semakin berkurang. kita hanya punya sisa umur. Mudah-mudahan dengan Zikrul maut (mengingat mati ), kita bisa menyikapi detik demi detik dari sisa umur kita dengan benar, yaitu mengisinya dengan aktivitas ibadah dan perbuatan utama yang didasari niat yang benar. Zikrul maut adalah salah satu upaya untuk menghidupkan hati kita. Dengan kata lain, orang-orang yang sangat jarang ingat mati berpeluang mengeras hatinya karena akrab dengan kemaksiatan. Sayang, kita terkadang “alergi “ dengan yang namanya kematian, mengapa? Karena kita terlalu senang dengan dunia ini. Padahal dunia ini tidak seberapa, kita hanya mampir dan mau tidak mau kita pasti mati. Apa bedanya hati yang hidup dengan hati yang mati? Ibarat seekor ikan, ikan yang hidup, tubuhnya tidak akan terasa asin walaupun dia berenang dan menelan air laut atau bahkan di lumuri air garam. Lain halnya dengan ikan yang mati, jika tubuhnya dilumuri garam, maka akan terasa asin walaupun telah keluar dari dalam air laut. Sama halnya dengan orang hatinya hidup, walaupun kemaksiatan terjadi disekelilingnya bahkan dengan gencar menggoda dirinya, dia tidak akan larut dalam kemaksiatan itu karena hatinya hidup. tapi kalau hatinya mati, sedikit saja godaan, dia mudah terkontaminasi oleh godaan tersebut.
Pernah mendengar tentang kisah para mujahidin Afganistan atau mujahidin Chechnya? Mereka sama sekali tidak gentar walaupun peluru berseliweran dekat tubuh mereka bagaikan nyamuk di malam hari. mengapa ketakutan tidak ada dalam diri mereka? karena mereka yakin, bahwa setiap peluru itu ada alamatnya. Segagah apapun orangnya, pasti dia akan mati. seorang jenderal besar, seorang konglomerat, seorang dokter, bahkan seorang tukang gali kubur pun pada saatnya nanti akan mendapat giliran mengisi kuburan yang biasanya dia gali.
Kematian saudara atau teman kita seringkali tidak membuat hati kita tergugah, mengapa? padahal rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa orang yang paling cerdas itu bukanlah orang yang encer otaknya, punya gelar, dan banyak ilmunya. orang yang cerdas itu adalah orang yang paling banyak ingat mati dan paling mempersiapkan diri untuk mati. Oleh karena itu dia akan selalu meluruskan niatnya dalam setiap ikhtiarnya sehingga kapanpun allah memanggilnya,dia akan selalu siap Luruskan niat kita dalam setiap langkah kaki kita. Kemanapun kita melangkah, pastikan niat kita benar. Niat kita pergi ke kantor harus benar “ Ya Allah, andaikata hari ini adalah hari kepulangan saya, maka jadikanlah semua aktivitas saya kebaikan.” Banyak jalan menuju maut. Kita tidak perlu takut dan was-was menjalani hidup ini. Tapi kita harus tetap berhati-hati dan selalu waspada.Jika saat kita belum tiba ,kecelakaan sedahsyat apapun tidak akan mematikan kita. Pergi perang tidak menyebabkan umur kita pendek. Kita akan mendatangi tempat kematian kita.Maka jangan risau tentang kematian, tapi risaulah jika kita tidak memiliki cukup bekal untuk menghadapi kematian. Lakukanlah aktivitas seperti biasanya. Setiap kita melakukan sesuatu, awalilah dengan basmalah. Sebelum kita tidur, biasakanlah untuk berwudhu layaknya wudhu untuk shalat, karena tidak ada jaminan besok pagi kita bisa bangun, bisa jadi di sela-sela tidur malaikat maut mencabut nyawa kita. Oleh karena itu , dari pada kita inget hutang , kesusahan , musuh, someone, dan lain sebagainya, lebih baik kita ingat kepada Allah SWT. dengan memperbanyak dzikir mudah-mudahan kita mendapat khusnul khatimah.
Kombinasi Amal Dunia dan Akhirat
Rasulullah yang mulia sudah mengatur tentang amal yang harus kerjakan di dunia ini sebagai bekal untuk akhirat nanti, “Beramalah di dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan berdoalah untuk akhirat seakan-akan kamu akan mati besok “. Jadi, itulah kombinasi yang sempurna. Kita terus kerja keras cari dunia, supaya punya banyak bekal untuk pulang. Makin banyak rumah kita dipakai orang yatim, dipakai oleh orang jompo yang tidak punya sanak saudara, dipakai untuk menampung orang-orang tunawisma, diwakafkan, dan digunakan untuk sarana ibadah di dunia ini, maka Insya Allah diakhirat nanti kita dapat menikmati buah dari amalan kita di dunia. Dunia adalah sarana bagi kita untuk mencapai kemuliaan diakhirat nanti. Carilah dunia sebanyak-banyaknya untuk kita jadikan bekal akhirat. Jika kita menggunakan dunia ini untuk berhura-hura, maka diakhirat nanti kita tidak akan menikmati lezatnya karunia Allah.
Menyikapi Rasa Takut Akan Mati
Jika kita mempunyai rasa cinta kepada Allah, maka kematian itu akan sangat dirindukan .Para mujahidin merasa iri melihat teman-temannya telah wafat mendahului mereka. Jika ada rasa takut dalam diri kita terhadap kematian, mungkin saja itu merupakan dosa. Saat kita mengingat makin banyak dosa yang kita lakukan maka kita merasa makin tidak siap menghadapi kematian, akhirnya kita takut jika kematian menjemput kita. Kita tidak siap menghadapi kematian karena kita merasa bekal kebaikan kita belum cukup. Faktor penyebab ketakutan kita yang paling mungkin adalah karena kita belum mengenal indahnya perjumpaan dengan Allah kelak. Makin mantap ma’rifat kita tentang Allah, maka kerinduan kita semakin tinggi untuk bisa berjumpa dengan-Nya. Maka berjuanglah dengan optimis,bahwa suatu hari kelak, kita di pertemukan bidadari yang Allah siapkan untuk orang-orang yang mempunyai bekal kebaikan di dunia.
Persiapan Menuju Kematian
Hidup kita harus barokah. Kapan saja Allah mencabut nyawa kita, maka itu bukanlah masalah. Marilah kita mencoba mempersiapkan kain kafan untuk kita sendiri. Atau cobalah untuk menghiasi rumah kita dengan sesuatu atau hal yang dapat mengingatkan kita akan kematian. Makin sering mengingat mati, maka kita akan semakin merasa bahwa dunia ini bukan segala-galanya .Kita harus tetap kerja keras di dunia ini untuk bekal pulang. Tidak perlu kita merasa takut berpisah dengan dunia ini karena kematian itu hanyalah perpisahan sementara.
Sungguh tidak lucu dan menyebalkan bila kita menitipkan motor kepada seseorang, lalu orang ini begitu senang memamerkan seolah-olah barang itu miliknya. Terlebih ketika kita akan mengambilnya, dia berusaha menahan dengan segala cara seakan tidak boleh diambil kembali. Bahkan ketika sudah berhasil kita bawa pulang,dia tampak uring-uringan, dongkol dan merana,padahal sama sekali bukan miliknya. Sungguh! tidak lucu sama sekali. Nah, orang yang belum memiliki keyakinan bahwa segalanya hanyalah titipan allah akan serba ketakutan. Kalau belum ada takut tidak kebagian, kalau sudah ada takut kehilangan. Persis seperti orang yang bersandar ke sebuah kursi, tentu saja ia sangat takut jika kursi itu di geser karena ia akan jatuh terpelanting. Berbeda halnya dengan orang yang berdiri tegak dan mantap, justru kursi yang bersandar pada dirinya. Sehingga dia tidak pernah takut kehilangan apapun. Begitulah orang yang hanya bersandar kepada Allah dan tak bersandar kepada dunia ini, dia tidak takut kehilangan apapun selain kehilangan ridho Allah. Baginya dunia ini terserah pemiliknya, mau diberi, ditahan, ataupun diambil. Karena dia yakin bahwa sang pemilik sudah punya perencanaan dan perhitungan yang maha cermat, yang tak akan salah dan meleset sedikitpun. Yang penting baginya bagaimana menyikapi ada dan tiada sambil tetap dalam ridho Allah. Segalanya pasti ada ajalnya. Hanya Allah semata yang kekal. ban pasti meletus, piring dan gelas akan pecah, lampu akan mati, kompor akan rusak. Ya…segalanya merupakan bagian dari perputaran “ladang rezeki” dan “ladang Amal” dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang mengerti hikmah dibalik semua kejadian. Tiada kesedihan dan kedukaan akibat tiada, ataupun kesombongan dengan ada, semuanya dikemas menjadi ladang ibadah Taqarrub kepada Allah semata. Wallahua’lam.
Doa Mohon Khusnul Khatimah
“Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma liqaa’ika”
Artinya : Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya dan sebaik-baiknya hariku adalah pada saat aku menemui Mu ( di sebutkan oleh An-Nawawi )

Dikirim pada 20 Oktober 2011 di Pelangi

Sosok Perempuan…

Perbincangan tentang perempuan ibarat mata air yang tidak pernah kering, dan selalu menarik untuk di bahas. Banyak stigma negatif yang dilekatkan padanya. Perempuan sering dianggap sebagai manusia yang lemah, di remehkan dan di tindas. Bahkan di tuding sebagai penggoda laki-laki. Di tengah tudingan dan stigma tadi, tidak sedikit perempuan yang kebingungan mencari jati dirinya.

Tawaran sosok perempuanpun datang silih berganti. Nah siapakah sebenarnya perempuan itu? Seperti apakah sosok perempuan sejati? Dan apa perannya dalam kehidupan?



Potensi Sukses Setiap muslimah

Islam telah menggariskan tentang siapa perempuan,dan apa peran yang harus di jalaninya. Sebagaimana halnya dengan laki-laki,perempuan adalah makhluk ciptaan Allah. Untuk menjalani kehidupannya, Allah membekali perempuan dengan seperangkat potensi kehidupan yang terdiri dari naluri-naluri, kebutuhan jasmani dan akal.

Dengan akalnya perempuan mampu memahami petunjuk dari Allah SWT dalam Alquran dan As-sunah. Dengan petunjuk dari Allah SWT, seorang muslimah mampu memecahkan masalah-masalah kehidupannya dengan baik dan terarah. Keimanannya kepada allah telah mendorongnya menjadikan aturan-aturan allah sebagai metode yang benar dan tepat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmaninya dan memuaskan naluri-nalurinya. Baik naluri beragama, naluri mempertahankan diri maupun naluri untuk melanjutkan keturunan.

Oleh karena itu, agar seorang muslimah mampu meraih potensi dalam hidupnya Ia harus memiliki dorongan yang kuat untuk hidup yang lebih baik. Ia harus memiliki kesungguhan untuk menggali dan mengembangkan kemampuan diri. Ia juga harus memiliki daya tahan untuk tidak mudah putus asa apalagi menyerah pada keadaan.

Muslimah Berprestasi

Lalu seperti apakah muslimah berprestasi? Muslimah berprestasi adalah mereka yang mampu melaksakan dengan ikhlas dan sempurna peran-peran yang di tetapkan Allah. Atas dirinya di dunia dan siap mempertanggung jawabkannya di akhirat kelak. Dengan pandangan inilah seorang muslimah akan meraih prestasi-prestasi terbaik dalam kehidupannya di hadapan tuhan kelak.



Prestasi Utama Muslimah

Islam telah menempatkan perempuan pada dua peran penting dan strategis. Pertama sebagai ibu bagi generasi masa depan, dan sebagai pengelola Rumah Tangga suaminya. Melalui sabdanya Rasulullah Muhammad SAW telah menempatkan peran keibuan dan pengelola rumah tangga sebagai peran utama kaum wanita. “Seorang Wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya,dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas kepengurusannya.” ( H.R Muslim).

Dengan demikian, islam telah menjadikan ibu dan pengelola rumah tangga yang berkualitas tinggi sebagai prestasi utama yang harus dicapai oleh seorang muslimah dalam hidupnya.

Menjadi Ibu Berkualitas

Sebagai ibu,Seorang muslimah memiliki tanggung jawab yang harus ia tunaikan terhadap anak-anaknya, seperti memelihara kandungan, melahirkan, menyusui, merawat dan menstimulir perkembangan bayi dan mengajari anak-anaknya.

Memiliki Kecerdasan Spiritual

Muslimah berkualitas adalah ibu yang memiliki kecerdasan spiritual, yang menyadari hubungan dirinya dengan Allah. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya diciptakan oleh allah untuk memerankan diri sebagai ibu terbaik bagi anak-anaknya, dan untuk itu semua hanya ridha allah yang diharapkan.

Berkepribadian Islam yang Tangguh

Muslimah berkualitas akan memiliki kepribadian islam yang tangguh dan mulia.berlandaskan aqidah islam. Cara berfikir dan tingkah lakunya senantiasa diarahkan oleh aturan-aturan islam.

Menyadari anak sebagai aset generasi mendatang

Anak yang berkualitas akan tercermin pada dirinya pribadi yang beriman, taat beribadah, berakhlak terpuji, kuat pendirian, pandai bergaulm lemah lembut, punya kepedulian terhadap masyarakat dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang di hadapinya. Untuk itulah ia akan menggunakan seluruh potensi terbaiknya untuk menjalankan peran keibuannya.

Menguasai Konsep Mendidik Anak

Agar dapat mendidik anak, seorang muslimah harus mengetahui dan menguasai konsep pendidikan anak, memahami arah dan tujuan mendidik anak dan mengetahui persoalan teknis praktis dalam mendidik anaknya. Dengan menanamkan aqidah islam, anak akan memiliki pola fakir yang islami, seorang ibu berkualitas harus mampu mengarahkan, mengendalikan, dan mengembangkan keinginan-keinginan anak sesuai dengan tuntunan islam. Ia juga mengenal potensi anak dengan mengamati penampakan yang muncul dari tindakan-tindakan anak. Dengan cara ini dia bisa melihat peluang yang bisa dikembangkan pada diri anaknya.

Berkomunikasi dengan anak secara baik

Kemampuan berkomunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting dalam proses pendidikan anak. Anak akan merekam kata-kata dan gaya bahasa sang ibu. Muslimah berprestasi tidak akan mengabaikan komunikasi yang baik dengan anaknya. Karena masa kanak-kanak adalah momentum berharga untuk membangun pondasi bahasa dan komunikasi anak.

Kreatif dalam Keterbatasan

Setiap manusia memiliki keterbatasan. Demikian pula halnya pada seorang ibu. Namun muslimah yang cerdas dan berkualitas akan menyikapi segala keterbatasan yang ada baik materi, waktu, tenaga dll, dengan cara yang tenang. Ia tidak akan menjadikan keterbatasannya sebagai manusia sebagai penghalang untuk berprestasi. Baginya keterbatasan adalah sebagai pendorong untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan persoalannya. dengan keyakinan kuat bahwa allah akan memberikannya kemudahan ketika ia berupaya mengikuti tuntunanNya.

Pengelola Rumah Tangga Berkualitas

Bagi muslimah berkualitas, peran sebagai pengatur rumah tangga suaminya akan menjadi prioritasnya juga. Ia akan membuat rumah suaminya laksana surga, tempat yang nyaman dan menyenangkan. Ia akan mengatur rumah menjadi rumah yang sehat, bersih, rapi, segar, dan selalu siap dengan fasilitas-fasilitasnya. untuk makan, minum, membersihkan diri, dan beristirahat. Dalam suasana yang nyaman dan menentramkan, setiap anggota keluarga akan mampu memupuk motivasi dan semangat untuk kembali berjuang menegakkan kebangkitan islam di masyarakat.

Kriteria Muslimah Berprestasi

Kriteria Muslimah berprestasi di ukur dari keberhasilannya menjalani dua peran yang telah ditetapkan islam baginya, peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, dan peran sebagai bagian dari masyarakat. Kedua peran ini harus mampu dijalankannya sekaligus secara optimal, dengan hasil yang optimal.

Dengan demikian muslimah berprestasi adalah:

Muslimah yang sukses sebagai istri, yang mampu melayani suami dan mengelola rumah tangganya dengan baik.
Muslimah yang sukses sebagai ibu, yang memelihara kandungan, merawat bayi, mengasuh anak di usia dini serta memdidik mereka , sehingga menjadi anak yang berkarakter muslim yang baik.
Muslimah yang sujses menjalani peran di masyarakat, baik yang wajib ataupun yang mubah, selama tidak melalaikan tugas utamanya sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga.
Mencetak Muslimah Berprestasi

Untuk mewujudkan muslimah-muslimah berprestasi, yakni menjadi ibu dan pengatur rumah tangga yang cerdas harus diupayakan proses pembinaan kepribadian islam kepada para muslimah. Pada dasarnya pembinaan kepribadian harus memperhatikan dua aspek.

1. Aspek Aqliyah ( Pola Fikir ) Diantara cara untuk meningkatkan kualitas Aqliyah Islamiyah seorang muslimah adalah dengan banyak memasukkan informasi ke dalam otak melalui banyak membaca buku-buku islam, banyak bertanya dan mendiskusikan segala peristiwa yang terjadi, berlatih menganalisa setiap peristiwa dan memberikan solusi sesuai dengan pemikiran dan hukum islam, rajin menambah wawasan melalui forum diskusi, seminar, training, workshop dll tentang bagaimana menjadi ibu dan pengatur rumah tangga yang baik.

2. Aspek Nafsiyah ( Pola Perilaku ) Diantara cara untuk meningkatkan kualitas Nafsiyah Islamiyah seorang muslimah adalah Meningkatkan frekuensi ibadah dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepada allah seperti memperbanyak shalat sunnah, membaca alquran dan banyak bersedekah. Memupuk rasa tawakal kepada allah dengan cara meyakini sepenuhnya semua sifat-sifat allah. Senantiasa mengevaluasi diri apakah tindakannya sudah sesuai dengan perintah allah atau belum. Istiqomah dalam memberikan yang terbaik untuk islam dan kaum muslimin melalui ketekunannya dalam suatu bidang yang paling dikuasainya.

Inilah langkah-langkah yang dapat ditempuh seorang muslimah untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas diri agar ia mampu menjadi muslimah yang berprestasi.


Dikirim pada 11 Januari 2011 di Pelangi

Alhamdulillah maha suci Allah yang menciptakan persoalan – persoalan bagi kita, yang dengan persoalan itu seharusnya kita jadi tambah ilmu, tambah pengalaman, tambah wawasan dan tambah iman.
Memang ada kalanya hidup tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Gelombang ujian dan cobaan seakan tak henti menerpa. Dari yang hanya membuat kita tertegun sejenak hingga yang menjadikan kita terkapar tak berdaya karenanya. Pedih dan getirpun menjadi rasa yang tertuai.
Namun ketika persoalan itu muncul, terkadang yang terucap dari mulut kita adalah “ Ya allah kenapa harus aku yang di uji?” seolah – olah menyalahkan dan bersu’udzon kepada allah. seolah Allah tidak berpihak, sudah tahajjud, shaum senin kamis, shaum daud, kok Allah tidak berpihak juga ya, pernah tidak seperti itu? Nah jadi kita ini bukan saja harus menyadari, namun juga harus bertanya pada diri sendiri, hidup ini untuk apa? jawaban yang tepat untuk ibadah bukan? sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat:56 yang artinya "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku".
Kalau begitu tidak ada alasan untuk bersedih, apalagi setelah kita merenungi hadits Rasulullah SAW yang kutipannya seperti ini, bahwa Allah sedang memilih kepada siapa cinta-Nya akan diberikan, kemudian Allah akan menguji hambanya dengan memberi cinta-Nya apabila hambanya dapat sabar dalam cobaannya itu Allah akan memilihnya untuk memberikan cinta-Nya dan apabila dia ikhlas, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dan ridho Allah ada beserta hambanya yang ridho dan ikhlas.Jadi kalau lagi susah hati itu bukan berarti Allah tidak berpihak, kenapa? karena Allah sedang menguji kita dalam keadaan tidak berkenan, tidak enak, tidak menyenangkan, cinta kita kepada Allah harus tetap tinggi. Adanya kesedihan yang muncul, adanya fikiran kondisi tersebut karena Allah tidak berpihak, jangan sampai membuat kita larut didalamnya, kenapa? karena kalau dalam keadaan begitu Allah memanggil kita kemudian wafat, kita bagaimana?
Idealnya kita hidup di dunia ini ingin merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Tapi ternyata justru yang namanya hidup, pasti penuh dengan ujian, sebuah keniscayaan yang telah jadi sunatullohNya. Pada dasarnya kehidupan kita adalah kumpulan dari m asalah demi masalah. Bahwa pergantian dan perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain adalah perpindahan dan pergantian masalah demi masalah. Karena hidup adalah tempatnya ujian atau masalah. Sebagaimana firmannya :
“ Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang – orang yang sabar “ (Q.S Al baqarah : 155 )
Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji mereka siapakah diantaranya yang terbaik perbuatannya” ( Q.S al Kahfi : 7 )
“ Apakah mereka mengira bahwa mereka akan di biarkan hanya dengan mengatakan “kami telah beriman” dan mereka tidak di uji? Dan sungguh, kami telah menguji orang – orang sebelum mereka, maka allah pasti mengetahui orang – orang yang benar dan pasti mengetahui orang – orang yang dusta” ( Q.S Al Ankabut 2- 3 )
karena hidup itu warna warni. ada suka, ada juga duka, ada tertawa ada menangis. Kita senantiasa berhadapan dengan masalah. Hanya saja kadarnyamasalah itu berbeda – beda sesuai tingkatan kemampuan seseorang dalam memikulnya. Karena hidup tidak selamanya merasakan kebahagiaan saja pun tidak hanya merasakan kesedihan saja, setiap manusia pasti memiliki episodenya masing-masing. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan pada masalahnya, namun masalah yang utama adalah sikap kita terhadap suatu masalah. Dengan masalah yang sama ada yang bersyukur, dan yang lain ada sebaliknya. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya urusan orang beriman itu selalu baik, apabila di timpa kebaikan ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan apabila ia di timpa kesusahan ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
Sebuah contoh sederhana, ketika seseorang kehilangan sepasang alas kakinya, sandal atau sepatu miliknya, pada detik itu ia merasa mendapat musibah, namun tidak lama menjelang ia melihat orang yang kehilangan kakinya, iapun bersyukur. Kenapa? Karena dirinya hanya kehilangan alas kakinya saja, sementara saudaranya kehilangan kaki yang tidak ternilai harganya. Subhanalloh. Jadi sebenarnya jangan takut oleh persoalan hidup apapun, tapi takut salah menghadapi persoalan hidup. yang harus terus kita yakini bahwa getirnya hidup, tidaklah menandakan rahmat allah telah sirna, perihnya cobaan, bukanlah isyarat bahwa kemurkaan allah sedang menggelayuti kehidupan ini. Sebaliknya, getir dan perihnya rasa yang kita alami dapat menjadi tanda bahwa allah sedang menghapus dosa – dosa yang pernah kita perbuat. Karena ada dosa yang tidak bisa di hapuskan kecuali oleh rasa getir dan perih. Ada dosa yang tidak bisa terhapus hanya oleh air mata penyesalan. Ketika pedihnya terasa, disanalah dosa akan terampuni. Saat getirnya membuncah di situlah kesucian akan tertuai. Hasilnya hatipun menjadi tenang dan keberkahan hidup menjadi jaminan.
Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar. Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Jadi ketika persoalan hidup datang menghampiri kita, apa yang harus kita lakukan? Yang pertama adalah Hati siap menghadapi yang cocok dengan keinginan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan. “ Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui “ ( Q.S Al Baqarah : 216 ) karena jelek menurut kita belum tentu jelek juga menurut allah, ilmu allah sangat luas sedangkan ilmu kita sangatlah terbatas, siapa tahu yang menurut kita itu jelek, ternyata itu adalah jalan kebaikan bagi kita. Seperti minum jamu, diawal ketika kita meminumnya, kita akan merasakan pahitnya jamu, tapi coba kita rasakan setelah minum jamu, badan menjadi terasa lebih sehat, begitu juga dengan ujian yang datang menimpa kita, pahit memang, getir juga iya, tapi ketika kita bisa menyikapi ujian yang kita hadapi itu dengan berhusnudzan pada allah, maka tidak hanya hati kita yang menjadi tenang, tapi akhlak menjadi cemerlang dan allah pun pasti akan sayang. Kita boleh saja menangis, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Bukan kah selama ini kita meminta pada allah untuk di tunjukkan jalan yang terbaik? Dan mungkin iniah caranya allah untuk menunjukkan kepada kita mana jalan yang terbaik bagi kita. Jika dengan datangnya ujian ini bisa menjadikan kita menjadi lebih mengenal, dekat dan lebih cinta kepada allah kenapa kita harus tidak rela? Ketika ujian ini bisa membuat kita memperbaiki diri kenapa kita harus kecewa? Yang penting tugas kita adalah luruskan niat, ibadah dan ikhtiar kita sempurnakan, selanjutya terserah allah, karena tugas kita bukan menentukan segala – galanya.
Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu manusia perlu mendasarkan semua yang diinginkan dan diusahakannya menurut ketentuan Allah dan dalam batas-batas yang diridlai-Nya. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang di luar kehendak Allah. Orang yang teguh imannya kepada Allah, ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Oleh karena itu orang beriman tidak mengenal putus asa. Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya, ia segera ingat kepada Allah. Boleh jadi ada hikmahnya, yang saat ini ia belum mengetahuinya, ia dapat menghindari rasa kecewa. Firman Allah: Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (Q. S. 4 : 19)
Langkah yang kedua adalah kalau sudah terjadi harus Ridho. Karena tidak ridho pun tetap terjadi. Orang itu menderita bukan karena kenyataannya, tapi karena tidak bisa menerima kenyataan. Dan orang yang enak itu adalah orang yang bisa menghadapi kenyataan. Karena ridho itu sendiri adalah menerima kenyataan sambil memperbaiki keadaan. Terkadang kita sering mengeluh pada allah, “ Ya allah, kenapa ujianku seberat ini?” ingat “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya itu” (Q.S Al Baqarah : 286) Allah maha tahu kadar kesanggupan kita dalam menghadapi ujiannya itu. Dan kita pasti mampu untuk menghadapinya. Ketika ingin naik jabatan, kita rela bekerja sebaik mungkin demi mendapatkan posisi yang kita inginkan,dan kita begitu senang ketika sudah mendapatkannya, apalagi ini, ujian yang kita hadapi ini tidak lain adalah agar kita menjadi hamba yang tinggi derajatnya di sisi allah, apakah kita tidak merasa bangga, karena kita adalah hamba yang masih di perhatikan dan di sayangi olehNya.
Langkah yang ketiga, ketika kita di uji adalah jangan mempersulit diri, Yassiru walaa tuassiru ya allah mudahkanlah jangan di persulit. lantas apakah kita harus frustasi dan berputus asa?
“ Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman” ( Q.S Ali Imran : 139 )
“ Janganlah kamu berputus asa dari rahmat allah, sesungguhnya allah mengampui dosa – dosa semuanya. Sungguh dia lah yang maha pengampun dan maha penyayang”( Q.S Az Zumar :53 )
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat allah sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat allah kecuali orang kafir “ ( Q.S Yusuf : 87 )
Ayat – ayat di atas tentulah sudah cukup menjelaskan bagaimana kita harus menyikapi suatu ujian, Saat ini kita takut kehilangan, mulai saat ini kita tidak takut lagi, rezeki kita di tahan,tenang saja, sejak dari rahim 4 bulan, allah sudah takdirkan rezeki kita. kalau kita sedang ada masalah, tenang saja, karena tidak tenangpun tetap muncul masalah. jadi tidaklah benar jika datangnya ujian menghampiri kita, membuat kita semakin terpuruk, atau bahkan lebih parah lagi nyaris bunuh diri karena tidak sanggup menghadapinya. Naudzubillah.
Selanjutnya yang ke empat adalah evaluasi diri. Tafakuri diri, kenapa ini terjadi, Karena tidak ada suatu kejadian tanpa seizin allah dan tidak ada sesuatu yang kebetulan melainkan atas kehendaknya. Tayakan dengan jujur pada diri sendiri apa salah saya? Apa perbaikan yang harus saya lakukan. dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.
Kita harus siap ketika ujian dan cobaan akan terus menerus datang menghampiri. Ia tidak akan hilang hingga segala karat – karat dosa kita terkikis olehnya. Seperti buah kelapa, untuk dapat diambil santannya ia harus di jatuhkan terlebih dahulu dari pohonnya yang tinggi, kemudian kulitnya harus di kelupas dengan paksa hingga tak tersisa lagi.setelah bersih, ia lalu di belah menjadi beberapa bagian. setelah itu, potongan – potogan kelapa tersebut lalu di parut hingga hancur dan hanya menyisakan ampasnya. Apakah telah selesai? Tentu saja belum, karena ampas kelapa itu akan diperas hingga keluarlah santan, yang di sana manfaatnya baru terasa. Begitu juga sifat dari ujian dan cobaan, ia akan terus melumat dan menghancurkan segalanya, hingga yang tersisa adalah bagian – bagian dari diri kita yang secara kualitas, telah siap menjadi para pencintaNya.
Lalu kapan ujian ini akan segera berakhir? ingat rumus puasa, kita menahan lapar dan haus karena yakin sebentar lagi akan tiba saatnya untuk berbuka. hujan pasti berakhir, badai pasti berlalu dan malam akan berganti siang. semakin beratnya ujian justru semakin dekat dengan jalan keluar.
“maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” ( Q.S Al Insyirah : 5-6 ) Setiap satu kesulitan di apit oleh dua kemudahan. Dan rumus dalam menyikapinya adalah HHN ( Hadapi Hayati dan Nikmati ) tidak akan kemana – mana pasti akan ada ujungnya.
Yakinlah bahwa setiap masalah sudah terukur oleh allah yang maha mengetahui kesanggupan hambanya dalam menerima ujian dan masalah. Hanya kita sering berprasangka buruk pada allah dan membatasi diri. Apabila kita berfikir berat, maka akan berat terasa masalahnya. Demikian juga sebaliknya. Berhati – hatilah dengan fikiran kita, karena ia akan menjadi perkataan kita, dan berhati – hatilah dengan perkataan karena ia akan menjadi perbuatan, berhati – hatilah dengan perbuatan karena akan menjadi kebiasaan, serta kebiasaan akan membentuk watak /akhlak.
Lalu pada siapa aku harus berharap? Dan inilah langkah yang kelima Bersandar hanya pada allah.”Cukuplah allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia dan hanya kepadaNya aku bertawakal.” (Q.S At Taubah : 129). Orang yang bersandar terhadap sesuatu takut sandarannya hilang, seorang istri yang bersandar kepada suami, takut kehilangan suaminya, Bagi kita sebagai orang beriman, cukuplah allah saja yang menjadi penolong kita. Ia menjadi penentu segala – galanya. Jadikan setiap masalah menjadi bahan evaluasi diri, jalan memperbaiki diri dan jalan mendekat kepada allah. Bagaimana caranya? “ wahai orang – orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada allah dengan sabar dan shalat, sungguh allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S Al Baqarah : 153) Memohonlah kepada allah untuk segera di beri jalan keluar dari setiap masalah, tingkatkan terus ibadah kita kepada allah, perbaiki shalat kita serta jangan lelah untuk bersabar. Berusahalah untuk menjadi orang yang bertakwa, karena tidak akan rugi, ketika kita berusaha untuk menjadi orang yang bertakwa, maka allah akan memberi kita jalan keluar dari setiap masalah dan akan memberi kita rezeki dari arah yang tidak di sangka – sangka. kita hidup tidak sendiri. Selalu ada Allah dalam hati dan hidup kita dan Allah tidak akan membiarkan Hamba-Nya dalam keterpurukan yang berkepanjangan.
Karena itu, saat ujian dan cobaan datang, Segeralah bertaubat agar tak hanya pintu taubat yang terbuka, namun status menjadi pencintaNya pun akan menjadi milik kita, tetapi bila ujian dan cobaan itu belum tiba, jangan terlena olehnya. Tetaplah mendekatkan diri padaNya dan selalu menempatkan allah sebagai satu – satunya tujuan dalam hidup kita. Semua orang punya masalah, maka sebaiknya permohonan kita kepada allah bukanlah tidak punya masalah tetapi mintalah kepadaNya agar kita di beri kekuatan untuk menghadapi setiap masalah. Karena semua masalah dan ujian adalah bagian dari tabiyah Allah atas kualitas hambanya. Pasti ada kebaikan di balik setiap masalah yang menimpa kita. jangan pernah khawatir karena sudah pasti Allah mempunyai rahasia dibalik semuanya. Yakinlah dengan semua ujian yang Allah berikan.“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (Q.S At Taubah : 111 )
Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga hidup singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti. Kita hidup didunia harus jelas tujuannya.cita-cita terbesar dalam hidup kita ialah berjumpa dengan Allah SWT. Mengingat mati, tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap detik diisi dengan penuh semangat memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. Semoga kita digolongkan menjadi hamba-hamba yang dicintai Allah SWT. kuncinya hanya satu: kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya. Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.
Kita memang harus bertindak cermat agar "sang umur", sebagai modal hidup kita, benar-benar efektif dan termanfaatkan dengan baik. Sebab, bisa jadi kita tak lama lagi hidup di dunia ini. Akankah sisa umur ini kita habiskan dengan kesengsaraan dan kecemasan padahal semua itu sama sekali tidak mengubah apapun, kecuali hanya menambah tersiksanya hidup kita? Tidak!, sudah terlalu lama kita menyengsarakan diri. Harus kita manfaatkan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan kekal di dunia dan di akhirat nanti.
Wallahualam bis shawab.
Ya Allah wahai yang maha tahu segala urusan dan masalah diri kami, berikan kepada kami kelapangan hati ya allah, kejernihan fikiran dan kelapangan qolbu. Agar setiap masalah yang engkau timpakan kepada kami membuat kami semakin mengenal keagunganMu, semakin mengenal kekurangan diri, dan semakin mengenal jalan pulang kepadaMu. Ya Allah dosa kami begitu banyak, sedangkan taat kami sedikit, ampuni segala dosa yang kami lakukan sebanyak apapun dosa itu, sebesar apapun dosa yang kami lakukan. Sebengkok apapun jalan yang kami tempuh luruskan, segelap apapun jalan hidup kami terangkanlah dengan nur hidayahMu, Sesulit apapun masalah yang kami hadapi, mudahkanlah ya Robbana …“

Dikirim pada 18 November 2010 di Pelangi
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

Seorang muslimah yang sedang bermujahadah untuk memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. More About me

Page
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 229.251 kali


connect with ABATASA