0




“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan "ah", dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” itulah peribahasa yang cukup popular, kasih ibu di ibaratkan jalan yang panjang tanpa ujung, memang ibu mengasihi kita tanpa kenal lelah dan waktu, hanya sayang sekali, kebanyakan anak mengasihi ibunya sebatas penggalan saja. Pernahkan kita memperhatikan seorang ibu yang sedang hamil? coba tanya bagaimana rasanya. Pasti berat dan sakit. Dulu kita ada dalam perut ibu, tiap hari berat badan kita semakin bertambah. Tapi ibu tetap saja sabar. Sambil menggendong kita yang masih ada di dalam perut , ia tetap saja bekerja menyapu, mengepel, mencuci pakaian, masak dan sebagainya. Ibu kita menggendong sambil duduk, berdiri rukuk dan sujud, berbaring, terlentang, malah bepergian kemanapun kita tetap saja di gendongnya. Apa tidak besar jasa ibu kita? Bayangkan apa ibu yang sedang hamil 7-9 bulan dapat tidur enak?

Kemudian kita lahir, bagaimana rasanya seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya? Ibu berteriak-teriak kesakitan, malah ada juga ibu yang meninggal ketika melahirkan anaknya. Sungguh indah wasiat yang rasulullah sampaikan kepada Fatimah Az-zahra yang merupakan mutiara termahal nilainya

“ Wahai Fatimah! Di saat seorang wanita Mengandung, maka malaikat memohon ampunan baginya. dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia di lahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umroh. Dan seribu malaikat memohon ampunan baginya hingga hari kiamat.”

Begitu lahir, ibu masih belum bisa jalan, ia masih kesakitan tapi kita tetap ada dalam pelukan ibu. Ibu tidak tega menyaksikan kita berteriak- teriak menangis. Lalu ibu mendekap kita dan memberi kita ASI. kita pun terdiam menikmati dekapan ibu dan ASI ibu kita. Berapa kali kita menangis minta ASI? Berapa ratus hari ibu menyusui kita? Tidak pernah bisa di hitung, tapi ibu siap setiap saat mendekap dan memberi ASI pada kita. Kita (maaf) pipis di sembarang tempat tapi ibu tetap saja bersabar mengganti popok dan selimut, kita pun di mandikan dengan penuh hati-hati, di hangati dengan minyak telon, dan di taburi bedak. Dalam kondisi yang semakin lelah ibu tetap saja senang dan bahagia kita di timang-timang dan diciuminya.

Bertambah besar secara berangsur kita di suapi mulai dari bubur yang paling encer hingga nasi tim, sambil tetap memberi ASI. Bertambah besar, kita pun semakin nakal, membuat ruwet ibu dan ayah.Apa orang tua kita melemparkan atau membuang kita? tentu tidak, walau nakal, tetap saja kita di pangku-pangkunya dan di peluknya.



Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu". (HR Muslim)

Dari isi Hadist terlihat betapa Allah melalui Rasulullah menilai besarnya pengorbanan orang tua kita terutama Ibu. Apa yang sudah ibu berikan kepada anaknya tidak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia ini. Ya begitulah orang tua kita, “Cinta orang tua pada kita adalah hutang yang tidak pernah mereka tagih, tapi juga tidak pernah bisa kita lunasi “

Orang tua adalah mata rantai terpenting dari seluruh perjalanan hidup kita. Dari ayah dan ibu lah segala cerita tentang kita bermula. Tapi tidak selalu kesana pula sejarah bakti kita bermuara. Seperti sudah takdirnya, orang tua lelah membesarkan anak-anak hanya untuk di tinggalkan di hari tuanya, mereka mengantarkan anak-anak untuk mengenali dunia ramai, untuk kemudian berbalas sepi di usia senja. Kecuali orang tua yang masih bisa tinggal bersama anak-anaknya hingga akhir hayatnya. Tapi faktanya, tidak semua orang bernasib baik seperti itu. Maka cinta orang tua pada anak tidak akan pernah bisa di tebus dengan cinta anak kepada orang tua. Seberapapun.

Entahlah, seberapa sering kita teringat orang tua kita. Lebih lagi bila pertanyaannya kita ganti, seberapa sering kita mengingat orang tua. Teringat dan mengingat tidaklah sama. “Teringat” terjadi lebih karena faktor eksternal. Mungkin kita melihat orang tua berjalan terhunyung, lalu kita teringat orang tua. Mungkin kita berjumpa dengan sesosok orang sepuh, lalu kita teringat orang tua kita. Mungkin kita melihat gambar, menyaksikan peristiwa, mampir disebuah rumah, lalu teringat orang tua. Selalu ada faktor luar yang menjadi pemicu untuk teringat.

Berbeda dengan “Mengingat”. “Mengingat” adalah sebuah kesengajaan sejak mula-mula. “Mengingat” di lakukan sebagai sebuah tanggung jawab tiada henti untuk terus berbakti kepada kedua orang tua. Seringkali kita tak begitu menghargai sesuatu, kecuali setelah sesuatu itu tiada lagi. Begitupun cara kita menghargai orang tua, seringkali banyak diantara kita yang merasakan betapa mahal keberadaan orang tua, justru setelah mereka tiada.

Hari ini, berhentilah sejenak. Mari merenung. Mengingatlah dan jangan sekedar teringat. Berapa banyak kebaikan yang telah kita nikmati dari orang tua kita, lalu berapa banyak kebaikan yang telah kita berikan untuk mereka. Bahkan dalam urusan mengambil manfaat dari doa-doa, kita para anak-anak selalu menikmati doa-doa orang tua kita, biasanya demi kebahagiaan hidup kita di dunia. Orang tua ingin melihat anak-anaknya tumbuh bahagia, berkembang dan bertambah dewasa di jalan kebahagiaan. Apa yang dalam bahasa Alquran di sebut dengan anak-anak yang bisa menjadi Qurrata’ayun. Sedang bagi orang tua kita, puncak manfaat yang ia rasakan dari dari doa anak-anaknya, justru ketika mereka sudah tiada. Itulah yang di jelaskan oleh Rasulullah, bila bahwa anak manusia mati, putuslah semua amalannya, kecuali tiga hal. Salah satunya adalah doa anak-anaknya yang shaleh. Boleh dikata kita menikmati kehidupan dunia ini dengan doa-doa orang tua. Sementara orang tua kita justru sangat mengharapkan doa-doa kita setelah ia tidak bisa menikmati apa-apa dari kehidupan dunia.

Hari ini sejenak bertanyalah mengingatlah dan jangan sekedar teringat Bagaimana kabar ibu kita hari ini? Bagaimana kabar ayah kita hari ini? Diantara kita mungkin ada yang masih bergenap orang tua. Mungkin ada yang salah satunya sudah tiada. Atau yang kedua-duanya sudah pergi mendahului kita. Kita hanya harus memastikan, seberapa tulus dan sungguh-sungguh kita mencintai dan membahagiakan mereka. Hidup memang bergerak maju kearah tantangan baru. zaman baru dan tuntutan yang baru. Tapi seharusnya selalu ada cara untuk mencintai orang tua, meski dengan sangat bersahaja.

Orang tua, terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang hidup kita. Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri. Kalau kita menghormati semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua kita. Begitu juga bila kita memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka berarti kita memaki orang tua kita sendiri. Memuliakan orang tua kita bukan dengan memberinya harta yang berlimpah. Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah membuat orang tua kita damai dan senang. Harta tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan akhlak yang baik.

Kita sebagai anak harus memohon, berjuang sekuatnya kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan lapang dada. Jangan pernah berfikir bahwa berbakti pada orang tua adalah soal balas budi. Karena itu tak akan pernah bisa kita penuhi.

Kepada semua ibu, Selamat Hari Ibu, Semoga Allah membalas semua Pengorbananmu dengan SyurgaNya.. Amin

Dikirim pada 22 Desember 2011 di Pelangi
Awal « 1 » Akhir
Profile

Seorang muslimah yang sedang bermujahadah untuk memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. More About me

Page
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 229.266 kali


connect with ABATASA